Catatan editorial PP ATPUSI berdasarkan paparan Dr. Iwan Junaedi, S.Si., M.Pd., Direktur KSPSTK, dalam KPSI VI dan Kongres ATPUSI 2026.
Perpustakaan sekolah tidak lagi
cukup dipahami sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku. Di tengah
perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan tuntutan pembelajaran yang semakin
mendalam, perpustakaan dituntut berubah menjadi pusat pengetahuan dan bagian
dari ekosistem pembelajaran. Transformasi itu setidaknya berlangsung pada dua
sisi: fisik perpustakaan dan peran tenaga perpustakaan.
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial telah mengubah cara peserta didik menemukan informasi. Jika sebelumnya perpustakaan menjadi salah satu pintu utama untuk memperoleh sumber pengetahuan, kini informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik melalui berbagai perangkat dan platform digital. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami, memeriksa, menghubungkan, dan memanfaatkan informasi dengan baik.
Di titik inilah
perpustakaan sekolah memiliki ruang peran yang semakin penting.
Dalam Konferensi
Perpustakaan Sekolah Indonesia (KPSI) VI dan Kongres ATPUSI 2026 di Universitas
YARSI, Dr. Iwan Junaedi, S.Si., M.Pd., Direktur Kepala Sekolah, Pengawas
Sekolah, dan Tenaga Kependidikan (KSPSTK), mengajak melihat kembali posisi
perpustakaan sekolah di tengah perubahan ekosistem pendidikan. Paparan tersebut
menempatkan transformasi perpustakaan bukan sekadar persoalan digitalisasi,
melainkan perubahan cara perpustakaan mendukung proses belajar.
| Paparan Dr. Iwan Junaedi, S.Si., M.Pd., Direktur KSPSTK, dalam KPSI VI dan Kongres ATPUSI 2026. |
Dari Gudang Buku Menjadi Pusat Pengetahuan
Salah satu gambaran yang menarik dalam paparan tersebut adalah perubahan cara memandang perpustakaan. Pada paradigma lama, perpustakaan dapat dipersepsikan sebagai gudang buku. Fokus utamanya berada pada koleksi cetak, perpustakaan sebagai unit layanan, serta aktivitas peminjaman dan pengembalian buku.
Paradigma tersebut kemudian bergeser. Perpustakaan diarahkan menjadi pusat pengetahuan atau sumber belajar. Koleksinya tidak lagi terbatas pada buku cetak, tetapi berkembang menjadi koleksi multimodal yang dapat mencakup buku, e-book, video, data, dan berbagai sumber digital lainnya. Perubahan ini penting karena kebutuhan belajar peserta didik juga tidak lagi berlangsung melalui satu jenis sumber.
Perpustakaan
sekolah harus mampu menghadirkan lingkungan yang memungkinkan peserta didik menemukan,
mengeksplorasi, membandingkan, dan menggunakan berbagai sumber belajar.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan perpustakaan tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa banyak buku yang dimiliki?”
Pertanyaan yang
lebih relevan adalah:
“Seberapa
jauh sumber belajar yang tersedia dapat digunakan untuk mendukung proses
pembelajaran?”
Inilah
perubahan mendasar dari perpustakaan sebagai tempat menyimpan koleksi menuju
perpustakaan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran.
Transformasi Fisik: Bukan Sekadar Mempercantik Ruangan
Ketika
berbicara tentang transformasi fisik, ada kecenderungan untuk memahaminya
sebagai renovasi gedung, penambahan furnitur, pemasangan komputer, atau membuat
ruangan terlihat lebih modern. Padahal transformasi fisik yang lebih
substansial berkaitan dengan perubahan fungsi ruang. Jika sebelumnya ruang
perpustakaan terutama dirancang untuk menyimpan buku dan melayani peminjaman,
maka ruang perpustakaan masa kini perlu dirancang sebagai ruang belajar dan
eksplorasi.
Artinya penataan
ruang harus menjawab kebutuhan aktivitas belajar yang lebih beragam. Ada ruang
untuk membaca secara individual, tetapi juga perlu tersedia ruang untuk
berdiskusi, mengeksplorasi informasi, bekerja sama, menggunakan sumber digital,
serta menghasilkan karya.
Dengan perspektif tersebut, desain fisik perpustakaan seharusnya mengikuti kebutuhan pembelajaran, bukan sebaliknya. Ruang yang nyaman memang penting. Namun, kenyamanan hanyalah salah satu unsur. Yang lebih penting adalah bagaimana ruang tersebut mendorong peserta didik untuk aktif belajar. Dengan demikian, transformasi fisik bukan sekadar “perpustakaan dibuat bagus”, tetapi “perpustakaan didesain untuk belajar.”
Tenaga Perpustakaan: Dari Pengelola Koleksi Menjadi Penghubung Pengetahuan
Di sinilah transformasi tenaga perpustakaan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari transformasi fisik. Perpustakaan yang sudah memiliki ruang modern dan koleksi digital belum tentu otomatis menjadi pusat pembelajaran apabila tenaga perpustakaannya masih bekerja dengan paradigma lama.
Tenaga perpustakaan perlu memperluas kompetensinya. Tidak cukup hanya memahami bagaimana buku diklasifikasi, dicatat, dan disusun. Tenaga perpustakaan perlu memiliki kemampuan untuk mengkurasi informasi, memverifikasi sumber, memahami kebutuhan pembelajaran, mengelola sumber digital, serta membantu peserta didik menemukan dan menggunakan informasi secara tepat.
Dalam konteks
AI, kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan. Ketika mesin dapat menghasilkan
jawaban dengan cepat, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar bagaimana
menemukan jawaban. Peserta didik perlu belajar:
Apakah
informasi tersebut benar?
Apa
sumbernya?
Apakah
sumber tersebut dapat dipercaya?
Apakah ada
informasi lain yang perlu dibandingkan?
Bagaimana informasi tersebut digunakan untuk menghasilkan pengetahuan atau karya?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut membuka ruang bagi tenaga perpustakaan untuk berperan sebagai
penghubung antara peserta didik, informasi, sumber belajar, dan proses
pembelajaran.
AI Tidak Menghilangkan Peran Perpustakaan
Perkembangan AI
dapat menimbulkan pertanyaan: jika peserta didik dapat bertanya langsung kepada
AI, apakah perpustakaan masih diperlukan?
Pertanyaan
tersebut justru perlu dibalik.
Semakin mudah
informasi diperoleh, semakin penting kemampuan untuk menilai kualitas informasi.
AI dapat membantu menghasilkan informasi, tetapi proses pendidikan tetap
membutuhkan manusia yang mampu menguji, memahami, menghubungkan, dan
menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Karena itu,
perpustakaan sekolah tidak perlu menempatkan AI sebagai pesaing. Perpustakaan
dapat menjadi salah satu ruang tempat peserta didik belajar menggunakan
teknologi secara kritis dan bermakna. Artinya perpustakaan bukan sekadar
menyediakan jawaban, namun membantu membangun proses untuk menemukan
pengetahuan.
Pesan penting
dari paparan KPSI VI tersebut adalah bahwa transformasi perpustakaan tidak
dapat dilakukan hanya pada satu sisi. Ruang berubah, tetapi manusia yang
mengelolanya juga harus berubah. Bangunan dapat direnovasi dalam waktu
relatif singkat. Koleksi digital dapat ditambahkan. Perangkat teknologi dapat
dibeli. Namun, perubahan peran tenaga perpustakaan membutuhkan proses yang
lebih panjang melalui pengembangan kompetensi, kolaborasi dengan guru, dan
pemahaman yang lebih kuat terhadap proses pembelajaran.
Transformasi
perpustakaan sekolah dapat dilihat sebagai sebuah rangkaian:
Rangkaian perpustakaan tidak berhenti sebagai fasilitas sekolah, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran
Menata Ulang
Makna Perpustakaan Sekolah
Transformasi
perpustakaan sekolah bukan tentang meninggalkan buku cetak dan menggantinya
dengan teknologi, agar terlihat modern semata. Transformasi yang lebih mendasar
adalah mengubah cara kita memaknai perpustakaan.
Dari gudang
buku menjadi pusat pengetahuan.
Dari unit
layanan menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.
Dari tempat
meminjam buku menjadi ruang belajar dan eksplorasi.
Dan dari tenaga yang terutama mengelola koleksi menjadi tenaga yang ikut menghubungkan informasi dengan kebutuhan belajar peserta didik.
Di era AI dan
pembelajaran mendalam, perubahan tersebut menjadi semakin penting. Perpustakaan
sekolah tidak harus menjadi tempat yang paling canggih di sekolah. Akan tetapi perpustakaan perlu menjadi tempat yang membantu
peserta didik belajar bagaimana mencari, memilih, memahami, menguji, dan
menggunakan pengetahuan.
.jpg)