KPSI VI & Kongres ATPUSI Resmi Dibuka di Universitas YARSI, Dorong Transformasi Perpustakaan Sekolah di Era AI dan Pembelajaran Mendalam


Jakarta, 17 September 2026. Pengurus Pusat Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (PP ATPUSI) bekerja sama dengan Universitas YARSI resmi membuka Konferensi Perpustakaan Sekolah Indonesia (KPSI) VI dan Kongres ATPUSI 2026 di Auditorium Al-Qudus Universitas YARSI, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Mengusung tema “Literasi, Artificial Intelligence, dan Pembelajaran Mendalam: Menuju Perpustakaan Sekolah Masa Depan”, KPSI VI menjadi ruang pertemuan bagi tenaga perpustakaan sekolah, guru, akademisi, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati pendidikan dan literasi untuk membahas perubahan peran perpustakaan sekolah di tengah perkembangan teknologi dan transformasi pembelajaran.

Kegiatan yang berlangsung selama 17-19 September 2026 ini diikuti oleh sekitar 100 peserta dari berbagai latar belakang dan daerah.

Pembukaan KPSI VI ditandai dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M(K), Subsp(I.I), Rektor Universitas YARSI. 

Kehadiran Universitas YARSI sebagai mitra penyelenggara memperkuat ruang kolaborasi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi dalam mendorong pengembangan profesionalisme tenaga perpustakaan sekolah sekaligus mempertemukan perspektif pendidikan, teknologi, penelitian, dan praktik kepustakawanan sekolah.

 

Suasana pembukaan KPSI VI & Kongres PP ATPUSI oleh Rektor Universitas YARSI


Perpustakaan Sekolah di Tengah Perubahan Teknologi

Salah satu agenda utama pada pembukaan KPSI VI adalah Keynote Session yang menghadirkan Dr. Iwan Junaedi, S.Si., M.Pd., Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan (KSPSTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dr. Iwan menyampaikan materi bertajuk “Kebijakan Transformasi Perpustakaan Sekolah di Era AI dan Pembelajaran Mendalam.”

Dalam paparannya, penguatan perpustakaan sekolah ditempatkan dalam konteks dukungan terhadap proses pembelajaran. Perpustakaan perlu dikembangkan sebagai pusat pengetahuan yang memungkinkan murid mengakses dan mengeksplorasi beragam sumber belajar, baik cetak maupun digital, sekaligus mendorong mereka untuk aktif mencari informasi dan berpikir kritis.

Perspektif tersebut menjadi semakin relevan ketika kecerdasan artifisial menghadirkan perubahan besar dalam cara murid menemukan, mengolah, dan menghasilkan informasi.

Dr. Iwan Junaedi, S.Si., M.Pd., Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan (KSPSTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai pembicara kunci memberikan arahan kepada peserta 

Tantangannya bukan semata-mata bagaimana perpustakaan menggunakan teknologi baru, tetapi bagaimana tenaga perpustakaan sekolah mampu memastikan teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat proses belajar, memperluas akses terhadap sumber pengetahuan, dan membangun kemampuan literasi informasi murid.


Bukan Sekadar Mengikuti Teknologi

Ketua Panitia KPSI VI, Ario Adi Prakoso, S.Hum., M.A., menegaskan bahwa arah utama konferensi bukan sekadar mendorong perpustakaan sekolah agar mengikuti perkembangan teknologi.

“Tujuan akhir bukan perpustakaan yang hanya mengikuti perkembangan teknologi, namun perpustakaan yang mampu memberikan manfaat yang nyata bagi proses belajar dan membentuk generasi literat, kritis, dan siap menghadapi masa depan.”

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi benang merah rangkaian KPSI VI. Teknologi ditempatkan sebagai sarana, sementara pembelajaran dan kebermanfaatan bagi murid tetap menjadi tujuan utama.

Karena itu, transformasi perpustakaan sekolah tidak cukup diukur dari seberapa banyak teknologi yang digunakan atau seberapa modern ruang perpustakaan yang dibangun. Transformasi juga perlu terlihat dari kemampuan perpustakaan untuk terhubung dengan pembelajaran, menyediakan sumber yang relevan, mendukung guru dan murid, serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Peserta melakukan foto bersama setelah sesi pembukaan KPSI VI & Kongres PP  ATPUSI


Tiga Hari Berbagi Pengetahuan dan Praktik

Selama tiga hari, peserta KPSI VI mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mempertemukan perspektif kebijakan, akademik, penelitian, dan praktik lapangan.

Rangkaian kegiatan meliputi Plenary session, workshop, forum riset, berbagi praktik baik, serta kunjungan edukasi.

Forum Riset menjadi salah satu ruang penting dalam KPSI VI. Melalui Call for Papers, sebanyak 23 naskah terpilih untuk dipresentasikan dalam forum tersebut. Karya-karya yang dipresentasikan selanjutnya menjadi bagian dari dokumentasi ilmiah melalui Prosiding PP ATPUSI.

Kehadiran Forum Riset sekaligus menunjukkan bahwa praktik perpustakaan sekolah tidak hanya perlu dilakukan, tetapi juga perlu didokumentasikan, dikaji, dibagikan, dan dikembangkan agar dapat menjadi pengetahuan bersama serta membuka peluang replikasi di berbagai sekolah.

Selain agenda konferensi, peserta juga akan mengikuti kunjungan edukasi ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan SMA Negeri 8 Jakarta. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan perpustakaan dan memperoleh inspirasi yang dapat dikembangkan sesuai konteks masing-masing sekolah.


Mempertemukan Pustakawan, Guru, Akademisi, dan Pemerhati Pendidikan

KPSI VI tidak hanya dirancang sebagai forum bagi pustakawan sekolah.

Sekitar 100 peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, antara lain tenaga perpustakaan sekolah, guru, kepala sekolah, akademisi, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati pendidikan dan literasi.

Keberagaman peserta menjadi bagian penting dari gagasan KPSI VI. Sebab, masa depan perpustakaan sekolah tidak dapat dibangun oleh pustakawan seorang diri.

Perpustakaan merupakan bagian dari ekosistem pembelajaran. Karena itu, transformasinya membutuhkan kerja bersama antara tenaga perpustakaan, guru, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Di tengah perkembangan AI dan perubahan paradigma pembelajaran, kolaborasi tersebut menjadi semakin penting. Pustakawan sekolah perlu memahami kebutuhan pembelajaran, guru perlu memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar, dan keduanya perlu membantu murid membangun kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan menghasilkan informasi secara bertanggung jawab.


KPSI VI sebagai Ruang Menatap Masa Depan

Penyelenggaraan KPSI VI menjadi bagian dari upaya PP ATPUSI untuk terus memperkuat profesionalisme tenaga perpustakaan sekolah sekaligus memperluas ruang dialog tentang masa depan perpustakaan sekolah di Indonesia.

Sebelumnya, PP ATPUSI telah menegaskan bahwa KPSI menjadi ruang untuk berbagi praktik baik, mengembangkan kompetensi, dan memperkuat jejaring tenaga perpustakaan sekolah.

Kini, tantangan yang dihadapi perpustakaan sekolah semakin kompleks. Murid hidup dalam lingkungan informasi yang bergerak cepat. Teknologi AI membuka peluang baru sekaligus menghadirkan kebutuhan baru terhadap kemampuan literasi, berpikir kritis, etika penggunaan informasi, dan pembelajaran yang bermakna.

Dalam konteks tersebut, pertanyaan penting bagi perpustakaan sekolah bukan lagi sekadar “teknologi apa yang harus digunakan?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Untuk apa teknologi digunakan, dan bagaimana perpustakaan memastikan teknologi tersebut benar-benar membantu murid belajar?”

KPSI VI hadir untuk mempertemukan pertanyaan tersebut dengan pengalaman, penelitian, praktik, dan gagasan dari berbagai pihak.

Sebab perpustakaan sekolah masa depan bukan sekadar perpustakaan yang paling cepat mengadopsi teknologi.

Perpustakaan sekolah masa depan adalah perpustakaan yang mampu membuat teknologi, informasi, koleksi, layanan, dan manusia bekerja bersama untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Selain menjadi forum ilmiah dan berbagi praktik baik, rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan Kongres ATPUSI 2026 sebagai forum tertinggi organisasi. Kongres menjadi momentum strategis bagi anggota ATPUSI dari berbagai daerah untuk merefleksikan perjalanan organisasi, mengevaluasi capaian, memperkuat komitmen kebersamaan, serta merumuskan arah dan program kerja organisasi ke depan.

Dari Jakarta, KPSI VI diharapkan menjadi ruang untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, dan membawa pulang gagasan yang dapat diwujudkan di sekolah masing-masing.

KPSI VI ATPUSI 2026
Literasi, Artificial Intelligence, dan Pembelajaran Mendalam: Menuju Perpustakaan Sekolah Masa Depan.

Menguatkan Peran, Menginspirasi Perubahan.

 


Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.