Setiap 14 September, kita memperingati Hari Kunjung Perpustakaan. Namun, di tengah perubahan cara anak-anak memperoleh informasi, peringatan ini layak dimaknai lebih jauh dari sekadar ajakan untuk datang, membaca, lalu meminjam buku.
Tahun ini, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengangkat tema “Buku:
Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.” Tema tersebut mengingatkan kita
bahwa buku bukan sekadar kumpulan halaman yang menyimpan informasi. Buku
menyimpan pengalaman, pengetahuan, gagasan, dan jejak pemikiran yang
memungkinkan satu generasi berbicara kepada generasi berikutnya.
Dalam peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Perpusnas juga
menegaskan bahwa perpustakaan tidak semestinya hanya menjadi tempat masyarakat
datang untuk memperoleh bahan bacaan. Perpustakaan perlu hadir lebih dekat
dengan masyarakat, memahami persoalan literasi, serta menjadi ruang perjumpaan,
pertukaran pengetahuan, dan pembelajaran sepanjang hayat.
Lalu, bagaimana makna itu kita bawa ke perpustakaan sekolah?
Jawabannya mungkin terletak pada satu pertanyaan sederhana:
Apakah perpustakaan sekolah hanya membantu murid menemukan buku, atau membantu mereka menemukan makna dari apa yang mereka baca?
Merawat ingatan: lebih dari sekadar menyimpan buku
Perpustakaan sejak lama memiliki fungsi penting sebagai ruang penyimpanan dan penyebaran pengetahuan. Tetapi di sekolah, fungsi itu memiliki dimensi yang lebih khusus. Anak-anak sedang membangun ingatan tentang dunia. Mereka mengenal sejarah melalui buku. Mengenal lingkungan melalui ensiklopedia. Mengenal keberagaman melalui cerita. Mengenal sains melalui bacaan populer. Mengenal dirinya melalui tokoh dalam cerita. Terkadang mereka menemukan keberanian untuk bermimpi melalui satu buku yang kebetulan mereka ambil dari rak.
Di sinilah gagasan “merawat ingatan” menjadi penting.
Perpustakaan sekolah membantu memastikan bahwa pengetahuan tidak berhenti
sebagai informasi yang lewat di layar. Pengetahuan diberi ruang untuk dibaca,
dibandingkan, direnungkan, dan dihubungkan dengan pengalaman murid.
Pemikiran Rudine Sims Bishop tentang buku sebagai “windows, mirrors,
and sliding glass doors” menjadi relevan dalam konteks ini. Buku dapat
menjadi cermin yang membuat anak mengenali dirinya, jendela untuk melihat
kehidupan yang berbeda, dan pintu untuk memasuki pengalaman orang lain. Untuk
itu memilih dan menyediakan koleksi bagi anak bukan sekadar pekerjaan teknis. Ada
keputusan pedagogis di balik setiap koleksi yang dihadirkan.
Pengetahuan yang tersimpan perlu dihidupkan kembali agar mampu menggugah
kesadaran.
Anak yang membaca tentang lingkungan, misalnya, tidak cukup hanya mengetahui definisi sampah plastik. Mereka perlu diajak mempertanyakan: Mengapa sampah menjadi masalah? Apa yang terjadi di sekitar sekolah? Apa yang bisa saya lakukan?
Di sinilah perpustakaan bertemu dengan pembelajaran. Dan di sinilah pula peran tenaga perpustakaan sekolah menjadi semakin penting.
Pustakawan sekolah bukan sekadar pengelola koleksi
Perubahan paradigma perpustakaan sekolah tidak berarti meninggalkan
fungsi pengelolaan koleksi. Justru pengelolaan koleksi yang baik menjadi
fondasi untuk menghadirkan layanan yang bermakna. Profesionalisme tenaga
perpustakaan sekolah tidak berhenti pada kemampuan mengelola bahan pustaka.Permendikdasmen
Nomor 21 Tahun 2025 tentang Standar Tenaga Kependidikan pada Pendidikan Anak
Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah memberikan
penegasan penting.
Dalam kompetensi profesional tenaga perpustakaan satuan pendidikan, salah
satunya disebutkan kemampuan:
“mengintegrasikan sumber daya dan layanan perpustakaan ke dalam
kurikulum dan kegiatan pembelajaran untuk mendukung pencapaian tujuan belajar
Murid.”
Tenaga perpustakaan sekolah tidak lagi cukup menunggu murid datang dan
memilih buku. Ia perlu memahami apa yang sedang dipelajari murid, mengetahui
kebutuhan belajar mereka, dan menghubungkan sumber daya perpustakaan dengan
proses pembelajaran.
Dengan kata lain, pustakawan sekolah perlu bergerak dari “pengelola sumber informasi” menjadi “mitra pembelajaran.”
Dari rak buku menuju ekosistem belajar
Bayangkan seorang guru sedang mengajarkan perubahan iklim. Peran
perpustakaan bukan hanya menyediakan sepuluh buku tentang perubahan iklim. Tenaga
perpustakaan dapat bekerja bersama guru untuk mengidentifikasi sumber yang
sesuai dengan usia murid, menyediakan buku cerita dan buku pengetahuan,
memperkenalkan sumber digital yang kredibel, membantu murid membandingkan
informasi, kemudian merancang aktivitas pencarian informasi yang mendorong
mereka menyusun kesimpulan sendiri.
Atau ketika guru mengajarkan keberagaman budaya.
Perpustakaan dapat menghadirkan cerita anak dari berbagai daerah,
biografi tokoh, buku bergambar, dokumentasi budaya, bahkan sumber digital.
Murid kemudian tidak sekadar membaca, tetapi membandingkan pengalaman,
mendiskusikan perbedaan, dan memahami bahwa dunia tidak hanya terdiri dari
pengalaman dirinya sendiri.
Perpustakaan menjadi bagian dari pembelajaran, bukan sekadar
ruangan yang berada di sekolah, tetapi sebuah ekosistem yang menghubungkan murid,
guru, pengetahuan, sumber informasi, dan pengalaman belajar.
Hari Kunjung Perpustakaan: bukan tentang seberapa banyak yang datang
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita memperluas cara mengukur
keberhasilan Hari Kunjung Perpustakaan.
Bukan hanya: Berapa banyak murid yang datang?
Tetapi juga:
Apa yang mereka
temukan?
Apa yang mereka pertanyakan?
Apa yang mereka pahami?
Apa yang berubah setelah mereka membaca?
Jumlah kunjungan tetap penting. Tetapi angka kunjungan seharusnya menjadi pintu masuk untuk melihat dampak yang lebih jauh.
Perpustakaan perlu hadir untuk membantu murid memahami informasi
dengan lebih baik.
Mana informasi
yang dapat dipercaya?
Bagaimana membandingkan sumber?
Bagaimana menemukan bukti?
Bagaimana menggunakan informasi secara etis?
Bagaimana pengetahuan yang ditemukan dapat digunakan untuk menyelesaikan
persoalan?
Karena itu, masa depan perpustakaan sekolah bukan tentang mempertahankan
perpustakaan agar tetap seperti dulu. Masa depan perpustakaan sekolah adalah memastikan
perpustakaan tetap dibutuhkan ketika cara belajar berubah.
Hari Kunjung
Perpustakaan pada akhirnya bukan hanya tentang mengajak anak datang ke
perpustakaan.Lebih jauh, kita ingin anak terlibat dengan pengetahuan.
Mereka datang
karena ingin tahu.
Mereka membaca karena menemukan sesuatu yang menarik.
Mereka bertanya karena membaca membuat mereka penasaran.
Mereka berdiskusi karena menyadari bahwa satu persoalan dapat dilihat dari
banyak sudut pandang.
Dan mereka belajar menggunakan informasi untuk mengambil keputusan yang lebih
baik.
Maka, pada Hari Kunjung Perpustakaan ini, pertanyaannya bukan sekadar:
“Sudahkah kita mengajak murid berkunjung ke perpustakaan?”
Tetapi:
“Sudahkah kita menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari perjalanan
belajar mereka?”
Selamat Hari Kunjung Perpustakaan.
Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.
PP ATPUSI_ Menguatkan Peran, Menginspirasi Perubahan.
.jpg)
.jpg)